Olahraga
sepak bola mulai dikenal masyarakat pribumi pada era penjajahan Belanda. Saat
itu, banyak bangsa penjajah yang datang ke Indonesia untuk melakukan kerjasama
bilateral bidang perdagangan. Salah satu bangsa yang ikut datang ke nusantara
dengan misi perdagangan adalah bangsa Cina. Diluar aktivitas perdagangan di
nusantara, ternyata Bangsa Cina ikut memperkenalkan permainan sepak bola yang
terkenal dengan kulit bundar ini. Dengan peran ganda itulah, Bangsa Cina bisa
leluasan menunjukkan keberadaannya terutama untuk keuntungan misi
perdagangannya.
Melalui
permainan sepak bola inilah, Bangsa Cina mendapatkan pengaruh yang besar di
Indonesia. Terbukti dengan terbentuknya organisasi bagi klub sepak bola olah
warga keturunan cina pada tahun 1915. Inilah cikal bakal unjng tombak yang
mengawali terbentuknya klub sepak bola di Nusantara (dulu Hindia Belanda).
Kemudian
pada tahun 1930-an, organisasi sepak bola mulai muncul berdasarkan suku bangsa.
Organisasi tersebut yang berdiri diantaranya adalah Nederlandsch Indische
Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1936 milik bangsa Belanda namun sebelumnya
bernama Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB)
milik seorang berketurunan Tionghoa, sedangkan milik bumiputra bernama
Persatuan Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI).
Pada
mulanya, keberadaan PSSI dipandang sebelah mata oleh sepak bola orang-orang
belanda. Berkat peristiwa kekalahan yang dialami oleh SIVB (kalau tidak salah
sekarang Persebaya Surabaya) yang memakai bintang-bintang dari NIVB kalah
melawan VIJ (kalau tidak salah sekarang Persija Jakarta) dengan skor 2-1,
akhirnya pada 15 Januari 1973 NIVU mengajak kerjasama dengan PSSI dengan
penandatanganan Gentlemen’s Agreement.
Sehingga dengan adanya penandatangan tersebut Belanda mengakui keberadaan PSSI
secara de facto dan de jure.
Sekaligus menyatakan PSSI dan NIVU sebagai pucuk organisasi sepak bola di
Hindia Belanda, sebagaimana dilansir Wikipedia.
Pada
tahun 1938 PSSI yang diketuai membatalkan perjanjian Gentlemen’s Agreement secara
sepihak saat Kongres di Solo. Hal ini di latarbelakangi oleh pelanggaran
perjanjian yang dilakukan oleh NIVU soal tim untuk dikirim ke Piala Dunia yang
diselenggarakan di Perancis. NIVU secara sepihak memberangkatkan tim
bentukannya sendiri ke Piala Dunia. Padahal di dalam perjanjian disebutkan
bahwa seleksi tim dilakukan dengan dilakukan pertandingan antara NIVU versus
PSSI. Pada saat itu PSSI memiliki tim yang sangat kuat. Ketangguhan PSSI mulai
terkenal ketika menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa milik Tionghoa. Padahal
sebelumnya, Nan Hwa mengalahkan NIVU sebanyak 4-0 tanpa balas.
Meskipun
demikian, era 1938 merupakan pertama kalinya Indonesia mengikuti Piala Dunia.
Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, sepak bola tanah air
dikontrol secara penuh oleh PSSI yang berubah nama menjadi Persatuan Sepak Bola
Seluruh Indonesia. Saat ini PSSI tercatat sebagai angota Konfederasi Sepak Bola
Asia.
Sumber:
wikipedia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar